Mulailah Bisnis Dari Kelas Kakap

Mulailah Bisnis Dari Kelas Kakap

Sebenernya foto dibawah ini aku ambil beberapa waktu lalu, ketika pukul 6 pagi harus sudah sampai kantor, diperjalanan menuju kantor aku melihat matahari yang berwarna keemasan begitu dramatisnya, sehingga setelah sampai ruangan kantor aku memutuskan untuk turun buat melihat lagi warna emasnya matahari sekalian beli kopi di sevel. Ternyata aku sudah 6 tahun berada di kantor ini, sejak lulus SMK sampai tamat kuliah, dari gedung ini belum dikasih casing sampai ditutup casing rapat macam foto dibawah ini. 6 tahun cukup lama untuk ukuran orang bekerja menurutku dan terasa jenuh belakangan ini.

Gedu

Ngomong-ngomong jenuh sebenarnya sudah beberapa kali aku merasa jenuh bekerja ditempat ini, namun sepertinya kali ini yang paling jenuh, yang awalnya aku sangat care kali ini benar-benar I don’t care, kalau jadi lagu, I don’t care, I hate it.

Jadi ketika dulu jenuh itu aku sempat mencoba bisnis kecil dengan 2 sahabat yaitu jualan bubur bayi organik, yah memang sudah seperti biasanya, yang namanya memulai itu berat, berdarah-darah deh dulu itu #lebay, sebenernya si enjoy saja apalagi ketika omset sehari yang wow. Alhamdulillah, namun 25 Oktober 2014 kemarin, atau 2 tahun berjalan bisnis itu kami harus tutup sementara karena tempat buat jualan bubur kami pada pagi hari pukul 6-8 pagi, dan sampai saat ini belum buka lagi hehe, mengingat tempat belum nemu, terus kemarin sempat kesandung skripsi yang bikin sedikit agak pusing dan pulangnya si karyawan ke kampung halaman #omg. 

Baiklah, pepatah dari China mengatakan bahwa:

orang sukses itu tidak malas, orang malas itu tidak sukses

Mungkin aku malas kali ya, nyari tempat aja ngga dapat-dapat, lha gimana ngga fokus. O iya ngomong-ngomong ada yang tau gedung diatas itu?

Sebenernya intinya disini, bisnis kelas kakap, banyak orang yang berpendapat bahwa untuk memulai bisnis itu dari yang kecil dulu, namun beberapa waktu lalu ketika aku bertemu dengan pak Witjak, (www.jejakwitjak.com) cuman ketemu tok, salaman lihat-lihat rumahnya yang belum jadi kemudian merenung di kosan, kok bisa orang masih muda begitu bisnisnya begitu luar biasa nilainya bagi aku (aku bisikin ya, pas di telepon itu transaksinya 150M). Sejak saat itu aku mengubah pola pikirku, mulailah bisnis dari kelas kakap, walaupun kakapnya baru lahir, namun yang namanya kakap tetaplah kakap, kalau bisnis kelas teri, walaupun sudah gede teteplah kelas teri. Gimana menurut pembaca?

4 Comments

  1. bener banget…

    “mulailah bisnis dari kelas kakap, walaupun kakapnya baru lahir, namun yang namanya kakap tetaplah kakap, kalau bisnis kelas teri, walaupun sudah gede teteplah kelas teri”

    harus dicatet itu di otak 😀

Tinggalkan sebuah balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *