Ini Pun Akan Berlalu!

Tulisan ini aku salin untuk kak Suryani, biar tetap semangat menjalani kehidupan yang fana ini. Semangka… Semangat kakak…. Please welcome, ini pun akan berlalu.

Seorang darwish, setelah mengadakan perjalanan panjang dan melelahkan ia ingin beristirahat di sebuah kampung. Ia bertanya kepada setiap orang yang dijumpainya: ‘dimana dan kepada siapa dirinya dapat bertamu, untuk beristirahat beberapa lama. Hanya saja para penduduk kampung saling menyampaikan kalau dirinya juga dalam keadaan miskin, rumah mereka kecil. Sehingga mereka menunjukkan rumah seorang penduduk bernama Syakir yang menjadi orang paling kaya dari semua penduduk kampung. Selain Syakir para penduduk juga menyebut seorang bernama Hadda yang juga keadaanya hampir sama dengan Syakir.

Setelah mendengar penuturan para penduduk ini sang darwish pun segera melanjutkan perjalanan untuk sampai ke rumahnya Syakir. Setelah melakukan perjalanan panjang beberapa lama, bertanya kepada beberapa orang, akhirnya sang darwish sampai ke rumahnya Syakir. Ia disambut dengan baik, dijamu dengan berbagai hidangan mewah dan dipersilakan untuk beristirahat selama dia mau. Tidak hanya Syakir, keluarganya juga menunjukkan sikap suka menerima tamu, sehingga sampailah waktu bagi darwish untuk berpamitan guna melanjutkan perjalanan. Saat itulah sang darwish berpesan kepada Syakir dan keluarganya: “Bersyukurlah karena Allah telah melimpahkan kekayaan berlimpah seperti ini”. Mendengar pernyataan darwish yang seperti itu Syakir menjawabnya dengan penuh rendah hati dengan berkata: “Segalanya tidaklah akan langgeng selamanya. Terkadang apa yang nampak oleh mata bukanlah keadaan yang sejatinya. Demikian semua ini tentulah akan berlalu..”.

Saat meninggalkan rumah Syakir darwish berpikir panjang tentang apa yang dikatakannya. Dan benar beberapa tahun kemudian darwish datang lagi untuk mengunjungi Syakir untuk menanyakan kabar, kesehatan. Namun, saat dalam perjalanan seorang penduduk telah menyampaikan bahwa Syakir kini sudah menjadi seorang yang sangat miskin. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya ia rela bekerja sebagai buruh ditempatnya Haddad.

Darwish langsung pergi menuju ke rumahnya Haddad. Disana dia berjumpa dengan Syakir. Sahabatnya itu kini telah begitu tua, badannya kurus, pakaiannya lusuh. Tiga tahun yang lalu telah terjadi banjir bandang yang melahap semua ternak sapi dan rumahnya. Perkebunanya juga tidak luput dari terjangan banjir sehingga kini tidak lagi dapat digarap. Dalam keadaan seperti itu, satu-satunya cara hanyalah bekerja ditempatnya Haddad yang mana kekayaannya sama sekali tidak diterjang banjir dan bahkan beberapa tahun terakhir ia semakin bertambah kaya. Demikian tiga tahun lamanya Syakir bersama dengan keluarganya bekerja sebagai buruh di rumahnya Haddad. Sehingga saat itu darwish hanya dapat berkunjung selama beberapa saat di gubuknya Syakir yang sangat sederhana, makan dengan apa adanya. Mendapati keadaan yang seperti ini darwish menyampaikan rasa bersedihnya atas bencana yang telah minimpanya. Namun, Syakir tetap teguh dengan jiwanya “Jangan bersedih… Janganlah lupa kalau semua ini pastilah akan berlalu”.

Darwish memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanannya keliling seluruh pelosok untuk berdakwah. Sampai setelah tujuh tahun kemudian ia kembali mengunjungi Syakir. Saat itu ia sangat tercengang dengan keadaanya yang telah begitu berubah drastis. Haddad telah meninggal dunia beberapa tahun sebelumnya. Oleh karena ia sama sekali tidak memiliki ahli waris sehingga seluruh harta dan kekayaannya diberikan kepada Syakir. Rumah mewah, ribuan ternak sapi dan sawah ladang yang sangat luas diwariskan kepadanya. Sehinngga ia kembali menjadi orang yang paling kaya didaerahnya. Mendapati keadaan yang seperti ini betapa sang darwish sangat bahagia. Namun, Syakir tetap pada jiwa yang sama “Semua ini juga akan berlalu…”

Selang beberapa waktu berlalu darwish kembali mengunjungi sahabatnya, Syakir. Saat itu orang-orang menunjuki puncak sebuah bukit. Disanalah terdapat pemakamannya. Pada batu nisannya tertulis “Ini juga akan berlalu”. Mendapati tulisan ini darwish berpikir panjang: “Apakah yang akan berlalu dari kematian?”. Ternyata setahun kemudian ia mendapati kuburannya telah hilang diterjang banjir. Demikian tak tersisa lagi sebercak pertandapun dari seorang Syakir.

Pada masa-masa itu kebetulan sang darwish mendapat panggilan dari raja untuk membuat sebuah cincin sakti. Sedemikian sakti cincin itu sehingga saat sang raja merasa sedih ia akan kembali menjadi bahagia dengan memandanginya. Sementara saat sang raja sedang bahagia, cincin itu akan menjaganya agar tidak lupa dalam kemalasan. Tentu saja tidak seorangpun dapat membuat cincin yang sesakti ini. Sehingga para pesuruh sultan mencari darwish untuk mendapatkan kesaktian itu. Saat itu sang darwish memberikan sebuah surat untuk tukang emas kepercayaan raja. Dalam beberapa waktu kemudian dibuatlah cincin pesanan raja sesuai dengan arahan darwish. Hanya saja setelah memakainya sang raja tidak juga merasakan kesaktian cincin itu; karena ia hanya sebatas cincin dengan tingkat seni yang sederhana. Namun, setelah beberapa saat sang raja memperhatikan apa yang tertulis dalam cincin itu barulah ia memahami maknanya. Sehingga ia pun tersenyum dalam kepuasan. “Semua ini akan berlalu”.

Segala apa yang ada didunia ini tidaklah akan bertahan untuk selama-lamanya. Seorang pemuda dihari ini esok akan menjadi tua. Seorang yang fakir dihari esok bisa jadi akan kaya. Seorang yang kaya dihari ini juga bisa jadi esok akan menjadi fakir. Karena itu janganlah engkau mengikatkan diri pada segala apapun didunia ini, dan jika engkau ingin bersandar, menambatkan keyakinan, maka tambatkanlah keyakinanmu hanya kepada Allah SWT dan berusahalah agar apa yang ada ditanganmu tidak lenyap, sirna; berusaha dengan berdoa dan bersyukur!

Diambil salah satu bagian dari terjemahan buku terlaris di Turki dengan judul Allah Var Problem Yok! Karangan Ferudun Ozdemir. Buku versi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Zahira.

3 Comments

Tinggalkan sebuah balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *