Disiplin

Disiplin

Kata itu saya dapatkan tadi, ketika saya berkunjung ke Temanggung, ke rumah bos kayu yang sudah puluhan tahun menggeluti dunia perkayuan. Kata itu sebenernya ditujukan kepada adiknya sendiri yang notabene sudah bukan seorang pekerja kantor pemerintahan yang ngabsen pagi dan petang namun adik beliau ini sangat disiplin terhadap jam buka toko kayunya, setengah 8 buka, setengah 5 tutup.

Pelajaran lain adalah ketika adik beliau ini masih bekerja di kantor pemerintahan, diwaktu senggangnya masih menyempatkan diri untuk beredar kemana-mana untuk berjualan seperti jualan mobil (jadi broker gitu), pekerja keras, pantang mundur, itu adalah kata-kata pujian yang disampaikan untuk adik beliau.

Sepertinya semuanya berpola, zaman ketika beliau masih jadi pemborong untuk mengerjakan proyek pemerintahan beliau bercerita bahwasanya beliau menemukan kecurangan pada konstruksi bangunan yang akan dibangun, seperti spesifikasi besi yang seharusnya 12mm diturunkan menjadi 10mm. Melihat kecurangan seperti ini beliau menghentikan diri untuk mengerjakan proyek pemerintahan, apalagi melihat kenyataan teman beliau yang juga seorang pemborong dan “bermain” harus merelakan sebelah kakinya akibat kecelakaan, dan teman yang lain diusia yang belum saatnya mengidap stroke-pun harus merasakannya.

Pola berikutnya bagaimana? Adik beliau sendiri, pensiun muda dari kantor pemerintahan karena melihat bupatinya juga “bermain”, lalu terjadilah kepada saya sendiri, saya tidak melanjutkan kontrak dari kantor pemerintahan untuk menghindari syubhat, halal jelas, haram jelas diantara itu ada yang samar-samar, itulah syubhat, barangsiapa menghindari syubhat maka dia menghindari yang haram. Sebelum kepekaan saya diuji dengan “ujian”, maka saya hindari, semoga langkah saya ini diridhoi Allah SWT. Aamiin. (terimakasih turut mendoakan, semoga urusan Anda lancar jaya. Aamiin).

Kembali ke disiplin, saya sendiri mulai berfikir, disiplin itu bukanlah isapan jempol belaka, disiplin menurut saya adalah fokus, konsisten, berkemauan kuat. Fokus disini tidak terpengaruh oleh hal yang “menggoda” kita untuk berbelok dari tujuan kita contohnya ketika diera yang serba terbuka ini, peluang usaha begitu banyak fokuslah pada satu bisnis terlebih dahulu biar ngga keteteran, kalau satu bisnis sudah berjalan, sudah mentok scale up nya, bolehlah buka baru lagi.

Lalu konsisten, saya ambil contoh strategi marketing, apalagi online, ada facebook, instagram, line@, dll itu, konsistenlah pada satu media, pelajari sepenuhnya sampai detail-detailnya, kalau bermain di facebook ads, ya pelajari dari insight sampai power editor, sampai tools eksternal seperti the graph, split test hingga menemukan winning campaign.

Bagian terakhir dari inti tulisan ini adalah kemauan kuat, mengapa kita melakukan ini, contohnya mengapa kita bisnis? Temukan jawaban dari kemauan kuat kita, seperti aku mau umrohkan orang tua. Catat, iya catat, tempel didinding yang mudah dibaca, jangan taruh dibelakang pintu, apalagi pintu gudang dan ketutup ama gantungan baju :P. Mengapa dicatat? Mengapa ditaruh ditempat yang mudah dibaca? Jawabannya adalah agar suatu ketika kita sedang “down” baca lagi kunci jawaban tadi sehingga kembalilah semangat kita. Ye ye ye, lompat lompat.

Imam Suro